Tentang Kopi Susu dan Sampah

Dulu saya cukup sering icip-icip kopi susu dari berbagai kedai kopi yang menjamur di Jakarta. Dari proses icip-icip tersebut, saya menemukan banyak variasi rasa kopi, ada yang rasa susunya lebih dominan dari kopi, ada yang susunya cuma kayak kecipratan doang sehingga saya bertanya-tanya ini sebenarnya kopi hitam atau kopi susu sih? Ada yang manis banget, ada juga yang terlalu pahit. Dengan harga kisaran 18-30 ribu Rupiah per gelas, pernah ngitungin sudah berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk menikmati kopi-kopi tersebut? Hehehe saya sih ga pernah~ soalnya kalo dihitungin ntar kesel sendiri. Intinya sih, total uang yang dikeluarkan untuk membeli itu semua bisa kita alokasikan ke pos lain yang lebih bermanfaat. Tapi selain untuk penghematan, sebenarnya yang saya pengen bahas disini adalah tentang berapa banyak sampah plastik yang kita hasilkan dari konsumsi minuman tersebut.

Bayangkan aja, setiap kita membeli segelas kopi susu, paling tidak kita menyumbang 3 jenis sampah plastik baru, yaitu gelas, tutup gelas, dan sedotan. Belum lagi kalau belinya melalui aplikasi online, jadi bertambah satu sampah lagi dari kantong plastik pembungkusnya. Duh, apa jadinya bumi ini kalo warganya terus-menerus memproduksi sampah baru sementara satu helai plastik saja membutuhkan berpuluh-puluh tahun untuk dapat terurai. Memang sudah saatnya kita memperbaiki perilaku konsumsi dengan lebih peduli dan beradab untuk mengurangi budaya menyampah.

Hal yang paling simpel dan pasti semua orang tahu adalah slogan 3R, Reduce – Reuse – Recycle. Untuk tahap awal, kita mulai dari Reduce dulu aja ya, yaitu mengurangi jumlah sampah. Cara-cara yang biasa saya lakukan :

  • Membawa botol minum sendiri ketika berpergian, selain isinya bisa di-refill, botol minum ini juga bisa jadi alternatif wadah ketika membeli minuman di kedai kopi
  • Memakai sedotan aluminium/bambu yang bisa berkali-kali pakai
  • Membawa peralatan makan seperti sendok/garpu/sumpit sendiri untuk meminimalisir penggunaan alat makan plastik ketika jajan diluar
  • Jika berbelanja ke supermarket/mall, bawalah kantong belanja sendiri jadi kita tidak perlu menerima bungkus plastik dari toko tersebut
  • Membawa perlengkapan mandi sendiri jika menginap di hotel untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dari alat-alat mandi hotel

Dengan melakukan hal-hal sederhana di atas, ternyata secara tidak sadar juga mengubah pola konsumsi saya. Setiap ingin jajan atau membeli sesuatu, saya jadi lebih berpikir panjang, terutama untuk jenis barang/makanan/minuman yang packagingnya ribet dan dibungkus secara berlebihan. Seringnya sih saya jadi lebih memilih untuk tidak beli, jadi lebih hemat dan ga nyampah kan? hahaha.

Jadi, selain mikirin hal-hal yang bikin pusing seperti kerjaan, percintaan, dan masa depan, ada baiknya kita balik lagi memikirkan hal-hal sederhana yang seringkali terlupakan. Karena dari hal-hal sederhana ini bisa membuat masa depan yang kita idam-idamkan tidak terwujud karena tempat dimana mimpi itu dijunjung sudah rusak dan hancur. Mulainya dari diri sendiri aja dulu, baru setelah itu kita bisa mulai mengajak orang lain untuk melakukan perubahan ini bersama-sama. Semoga kita semua selalu bisa mawas diri yaah untuk menahan gejolak keinginan jajan yang tidak berfaedah demi berkurangnya sampah di muka bumi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s